Senin, 02 Januari 2012

analisis kesalahan berbahasa


Kesalahan merupakan sisi yang mempunyai cacat pada ujaran atau tulisan sang pelajar, kesalahan tersebut merupakan bagian-bagian konversasi atau komposisi yang menyimpang dari norma atau norma terpilih dari permansi bahasa orang dewasa, para guru dan orang tua (terlebih pada ibu) yang telah berupaya menenangkan pertarungan begitu dan sabar terhadap kesalahan berbahasa murid-murid dan anak-anak tiba pada satu kesimpulan, pada suatu realisasi, bahwa terbuat kesalahan merupakan suatu bagian belajar yang tidak terhindarkan. Dengan perkataan lain, guru dan orang tua tidak perlu mengelak atau menghindar dari kesalahan, tetapi justru harus menghadapi serta memperbaiki kesalahan yang dibuat oleh murid dan anak mereka. Kita hendaklah menyadari benar-benar bahw orang tidak dapat belajar bahasa tanpa pertama sekali berbuatkesalahan-kesalahansecarasistematis.
            Diatas telah kita singgung bahwa kesalahan adalah bagian konversasi atau komposisi yang menyimpang dari beberapa norma baku (atau norma terpilih) dari performansi bahasa orangdewasa(Dulay),1982:277).
            Istilah “kesalahan” yang dipergunakan  dalam buku ini adalah padanan dari kata “errors” dalam bahasa inggris. Dalam bahasa inggris sendiri kata errors mempunyai sinonim, antara lain:
mistakes dan goofs. Demikian pula halnya dalam bahasa Indonesia, disamping kata kesalahan kitapun mengenal kata kekeliruan dan kata kegalatan.
Mungkin saja ada orang yang megajukan pertanyaan:“untuk apa menelaah atau menganalisis kesalahan berbahasa pada pelajar?“
Menelaah kesalahan para pelajar, khususnya kesalahan berbahasa, mengandung dua maksudutama,yaitu:

1)  Untuk memperoleh data yang dapat dipergunakan untuk membuat atau menarik kesimpulan-kesimpulan mengenai hakikat proses belajar bahasa;

2)  Untuk memberikan indikasi atau petunjuk kepada para guru dan para pengembang kurikulum,      bagian mana dari bahasa sasaran yang paling sukar diproduksi oleh pelajar secara baik dan benar, serta tipe kesalahan mana yang paling menyukarkan atau mengurangi kemampuan pelajar untuk berkomunikasi secara efektif (Dulay (et al), 1982: 138).
         Secara awam, kita dapat mengatakan bahwa mengetahui kesalahan para pelajar mengandungbeberapakeuntungan,antaralain:

a) Untuk mengetahui sebab-musabab (atau penyebab) kesalahan itu; untuk memahami latar            belakangkesalahantersebut;
b)Untuk memperbaiki kesalahan yang dibuat oleh para pelajar;
c) Untuk mencegah atau menghindari kesalahan yang sejenis pada waktu yang akan dating, agar          para pelajar dapat menggunakan bahasa dengan baik dan benar.


Sumber kesalahan berbahasa secara tersirat sudah dapat dipahami oleh anda dalam sajian sebelum ini. Penyimpangan bahasa yang dilakukan oleh para penutur, terutama anak (siswa) dalam pemerolehan dan pembelajaran bahasa. Berdasarkan kategori taksonomi kesalahan atau kekeliruan bahasa, anda sudah dapat memprediksikan sumber-sumber kesalahan bahasa.
            Dalam konteks ini sumber kesalahan itu adalah “ Pergunakanlah bahasa Indonesia yang baik dan benar”. Dari parameter penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar kemudian dihubungkan dengan pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah, itulah sumber yang utama untuk analisis kesalahan bahasa dalam sajian ini. Penyimpangan bahasa yang diukur berada pada tataran ( wilayah ) fonologi, morfologi, sintaksis, semantic dan wacana yang dihubungkan dengan factor-faktor penentu dalam komunikasi.
                       
Analisis kesalahan bahasa dalam tataran fonologi

            Sumber kesalahan berbahasa dalam tataran fonologi bahasa Indonesia antara lain : fonem, diftong, kluster, dan pemenggalan kata. Sumber kesalahan itu terdapat pada tataran berikut :
1.   Fonem /a/ diucapkan menjadi /e/
2.   Fonem /i/ diucapkan menjadi /e/
3.   Fonem /e /diucapkan menjadi/e`/
4.   Fonem/e`/ diucapkan menjadi /e/
5.   Fonem/u/ diucapkan menjadi /o/
6.   Fonem /o/diucapkan menjadi /u/
7.   Fonem /c/ diucapkan menjadi /se/
8.   Fonem /f/ diucapkan menjadi /p/
9.   Fonem /k/ diucapkan menjadi /?/ bunyi hambat glotal
  10.  Fonem /v/ diucapakan menjadi /p/
  11.  Fonem /z/ diucapkan menjadi /j/
12.  Fonem /z/ diucapkan menjadi /s/
13.  Fonem /kh/diucapkan menjadi /k/
14.  Fonem /u/ diucapkan menjadi /w/
15.  Fonem /e/ diucapkan menjadi /i/
16.  Fonem /ai/ diucapkan menjadi /e/
17.  Fonem /sy/ diucapkan menjadi /s/
18.  kluster /sy/ diucapkan menjadi /s/
19.  Penghilangan fonem (k)
20.  Penyimpangan pemenggalan kata.

Kesalahan Fonologi

a. Kesalahan ucapan

            Kesalahan ucapan adalah kesalahan mengucapkan kata sehingga menyimpang dari      ucapan baku atau bahkan menimbulkan perbedaan makna. Misalnya:
enam diucapkan anam, anem
saudara sudara, sodara
rabu rebo
mengubah mengobah
telur telor
menerangkan menerangken
alasan alesan
peletakan peletakkan
makin mangkin
tangkap tangkep
hantam hantem, antem
esa esa.

b.   Kesalahan ejaan
     Kesalahan ejaan ialah kesalahan menuliskan kata atau kesalahan menggunakan tanda baca.                               Contoh:
     Tuhan yang mahakuasa ditulis tuhan yang maha kuasa
     Tuhan yang maha pemurah tuhan yang mahapemurah
     Mengetengahkan mengketengahkan
     Mengesampingkan mengeyampingkan
     Melihat-lihat me-lihat2
     Mempertanggungjawabkan mempertanggung jawabkan
     Bertanggung jawab bertanggungjawab
     Pertanggungjawaban pertanggung jawaba
     Sekaligus sekali gus
     Tata bahasa tatabahasa
     Orang tua orangtua
     Dua puluh duapuluh.

            Sumber kesalahan bahasa dalam tataran morfologi bahasa Indonesia, antara lain :
1. Salah penentuan bentuk asal.
2. Fonem yang luluh tidak di luluhkan.
3. Fonem yang tidak luluh di luluhkan.
4. Penyingkatan morfem men-, meny-, meng-, dan menge- menjadi n, ny, ng, dan nge-.
5. Perubahan morfem ber-, per-, dan ter-, menjadi be-, pe-, dan te-.
6. Penulisan morfem yang salah.
7. Pengulangan yang salah.
8. Penulisan kata majemuk.
9. Pemajemukan berafiksasi.
10. Pemajemukan dengan afiks dan sufiks.
11. Perulangan kata majemuk.

            Sumber kesalahan berbahasa dalam tatanan frase, antara lain:
1. Ftase kata depan tidak tepat.
2. Salah penyusunan frase.
3. Penambahan kata” yang” dalam frase benda (nominal) (N+A).
4. Penambahan kata “dari” atau “tentang” dalam frase nominal (N+N).
5. Penambahan kata nominal dalam frase nominal.
6. Penambahan kata “dari” atau “pada”dalam frase ferbal (V+Pr).
7. Penambahan kata “untuk” atau” yang” dalam frase nominal (N+V).
8. Penambahan kata “untuk” atau yang dalam frase nominal (V+yang+ A).
9. Penambahan kata “yang” dalam frase nominal (N +yang + V pasif).
10. Penghilangan preposisi dalam frase verbal (V intransitive + preposisi +N).
11. Penghilangan kata “oleh” dalam frase verbal pasif (V pasif+ oleh + A).
12. Penghilangan kata “yang” dalam frase adjektif (lebih + A+ daripada + N/Dem).

            Sumber kesalahan berbahasa dalam tataran klausa, antara lain:
1. Penambahan preposisi di abtara kata kerja dan objek dalam klausa aktif.
2. Penambahan kata kerja bantu “adalah “ dalam klausa pasif.
3. Pemisahan pelaku dan kata kerja dalam klausa pasif.
4. Penghilangan kata “oleh” dalam klausa pasif.
5. Penghilangan preposisi dari kata kerja berpreposisi dalam klausa pernyataan.
6. Penghilangan kata”yang” dalam klausa nominal.
7. Penghilang kata kerja dalam klausa intransitive.
8. Penghilangan kata” untuk” dalam klausa pasif.
9. Penggantian kata “daripada” dengan kata”dari” dalam klausa bebas.
10. Pemisahan kata kerja dalam klausa medial.
11. Penggunaan klausa rancu.
            Sumber kesalahan berbahasa dalam tataran sintaksis, antara lain :
1.  Penggunaan kata perangkai, dari, pada, daripada, kepada, dan untuk
2.  Pembentukan kalimat tidak baku, antara lain :
            a.  Kalimat tidak efektif
            b.  Kalimat tidak normative
            c.  Kalimat tidak logis
            d.  Kalimat rancu
            e.  Kalimat ambigu
            f.  Kalimat pengaruh struktur bahasa asing.
            Sumber kesalahan berbahasa dalam tataran semantik, antara lain :
1.  Akibat gejala hiperkorek
2. Akibat gejala pleonasme
3. Akibat bentukan ambiguitas
4. Akibat diksi (pemilihan kata)
            Sumber kesalahan berbahasa dalam tataran wacana, antara lain :
1.  Akibat syaraf-syaraf paragraf tidak terpenuhi.
2.  Akibat struktur sebuah paragraf
3.  Akibat penggabungan paragraf
4.  Akibat penggunaan bahasa dalam paragraph
5.  Akibat pengorganisasian isi ( topik-topik ) dalam paragraf.
6.  Akibat pemilihan topik ( isi) paragraph yang tidak tepat.
7.  Akibat ketidakcermatan dalam perujukan
8.  Akibat penggunaan kalimat dalam paragraf yang tidak selesai.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar